Sangatta – Sekretaris Komisi B DPRD Kutai Timur, Leny Susilawati Anggraini, menyoroti kendala yang masih dihadapi oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mengadopsi teknologi digital. Menurutnya, keterbatasan kemampuan teknologi dan rendahnya literasi digital menjadi penghambat utama bagi UMKM di Kutim untuk berkembang dan bersaing di era digital saat ini.
Dalam keterangannya, Leny mengungkapkan bahwa banyak pelaku UMKM di Kutai Timur yang kesulitan dalam memahami dan memanfaatkan teknologi untuk operasional bisnis, terutama dalam hal administrasi keuangan dan pembukuan digital. “Saat ini, kendala utama UMKM kita adalah keterbatasan dalam mengadopsi teknologi. Literasi digital mereka masih rendah, apalagi dalam hal penyusunan laporan pembukuan dan administrasi keuangan yang menggunakan teknologi digital,” ujarnya pada Kamis (5/11/2024).
Tantangan Teknologi Digital bagi UMKM
Banyak pelaku UMKM masih terbiasa dengan cara-cara konvensional dalam menjalankan usaha, termasuk dalam mencatat keuangan secara manual. Leny menyebut bahwa kebiasaan ini menjadi tantangan ketika UMKM dituntut untuk beralih ke sistem pembukuan digital yang lebih efektif dan efisien. Namun, keterbatasan pengetahuan dan adaptasi yang rendah membuat proses transisi ke digitalisasi ini tidak berjalan optimal.
“Kami melihat bahwa literasi digital yang rendah ini mempersulit UMKM kita untuk berkembang lebih pesat. Padahal, dengan digitalisasi, proses pembukuan dan administrasi bisa lebih mudah dan akurat, yang tentunya berimbas pada peningkatan kinerja usaha mereka,” jelas Leny.
Pentingnya Pendampingan dan Pelatihan Digital
Menanggapi kendala tersebut, Leny mendorong agar pemerintah daerah memberikan pendampingan dan pelatihan digital kepada para pelaku UMKM. Ia menyarankan adanya program pelatihan yang lebih intensif dan berkelanjutan, agar pelaku usaha kecil dapat lebih memahami dan menerapkan teknologi digital dalam operasional mereka. Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan UMKM mampu beradaptasi lebih cepat dan siap menghadapi persaingan di pasar yang semakin ketat.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan pelatihan yang lebih menyeluruh dan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga praktik langsung. Pendampingan yang berkesinambungan sangat penting agar hasil pelatihan dapat benar-benar dirasakan oleh pelaku UMKM,” tambahnya.
Harapan Terhadap Kemajuan UMKM Kutai Timur
Leny optimis bahwa jika pelaku UMKM di Kutai Timur dapat mengatasi kendala teknologi dan meningkatkan literasi digital, usaha mereka akan memiliki daya saing yang lebih kuat. Peningkatan literasi digital dan kemampuan dalam manajemen keuangan secara digital juga diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas dan akses UMKM terhadap sumber permodalan yang lebih luas.
“Kami yakin bahwa UMKM di Kutim punya potensi besar. Dengan pendampingan yang tepat dan pengetahuan teknologi yang memadai, UMKM kita bisa lebih berdaya saing dan berkontribusi pada perekonomian daerah,” tutup Leny.
DPRD Kutai Timur berharap bahwa langkah ini akan memberikan dampak positif, tidak hanya bagi pelaku UMKM, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum.
