Kutim – Seperti menyalakan lilin di tengah gelapnya angka kecelakaan remaja, upaya membangun budaya keselamatan berlalu lintas kembali digaungkan di Kabupaten Kutai Timur. Kali ini, aula SMAN 1 Sangatta Utara menjadi ruang tumbuh kesadaran baru bagi pelajar untuk mengambil peran sebagai pelopor keselamatan menuju zero insiden di jalan raya.
Kegiatan sosialisasi tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Perhubungan Kutai Timur, HIMPSI, serta LPAI Kabupaten Kutai Timur. Acara ini mengangkat tema pelajar pelopor keselamatan sekaligus kampanye kawasan bebas rokok sebagai bagian dari indikator penilaian Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Bertempat di salah satu sekolah ramah anak, yakni SMAN 1 Sangatta Utara, kegiatan ini diikuti oleh ratusan siswa yang antusias menyimak materi dari para narasumber.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bidang Pengembangan dan Keselamatan Dinas Perhubungan Kutai Timur yang diwakili oleh Mega Pujiyanti dipercaya menjadi salah satu narasumber utama. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas sejak dini, mengingat tingginya angka kecelakaan yang melibatkan usia pelajar.
“Sebagai Kepala Bidang Pengembangan dan Keselamatan, saya merasa sangat bangga dan tersanjung dapat menyampaikan sambutan pada kesempatan istimewa ini. Acara ini bukan hanya merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam mewujudkan visi Kabupaten Layak Anak, tetapi juga langkah nyata untuk melindungi dan memberdayakan generasi muda kita,” ujar Mega dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa program Kabupaten Layak Anak merupakan strategi nasional yang berfokus pada pemenuhan hak-hak dasar anak, termasuk hak sipil, perlindungan dari kekerasan, serta akses terhadap lingkungan yang aman dan inklusif. Dalam konteks ini, sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan karakter dan kesadaran siswa terhadap hak serta kewajibannya.
“Melalui sosialisasi ini, kita ingin memastikan bahwa setiap anak di Kutai Timur memiliki akses penuh terhadap hak-hak sipilnya, bebas dari ancaman, dan didukung lingkungan yang aman serta inklusif,” lanjutnya.
Selain isu perlindungan anak, materi safety riding juga menjadi fokus utama. Mega menyoroti fakta bahwa remaja usia sekolah menjadi kelompok rentan dalam kecelakaan lalu lintas akibat kurangnya pemahaman dan kedisiplinan berkendara.
“Safety riding bukan sekadar aturan, melainkan investasi untuk masa depan yang lebih aman bagi anak-anak kita. Penggunaan helm standar, kepatuhan terhadap rambu lalu lintas, serta kesadaran akan kondisi fisik saat berkendara adalah hal mendasar yang harus dimiliki pelajar,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Sangatta Utara, Tatik Widayani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan remaja di usia sekolah menengah atas, yang tengah berada pada fase pencarian jati diri sekaligus rentan terhadap berbagai pengaruh lingkungan.
“Saya sangat senang dengan adanya sosialisasi ini, terutama karena tema keselamatan dan bahaya merokok sangat dekat dengan kehidupan anak-anak SMA. Mudah-mudahan apa yang disampaikan narasumber bisa diambil manfaatnya oleh para siswa,” ungkap Tatik.
Ia juga menekankan pentingnya peran pelajar sebagai agen perubahan, khususnya dalam menyuarakan isu-isu yang berkembang di lingkungan mereka. Menurutnya, forum anak dapat menjadi wadah strategis untuk menampung aspirasi sekaligus mendorong perubahan positif.
“Kalian adalah agen perubahan yang bisa mendengarkan curahan hati teman-teman dan menyuarakan perubahan di lingkungan kalian. Sekolah adalah rumah kedua, maka jadikan tempat ini aman, nyaman, dan ramah anak,” tambahnya.
Kegiatan ini juga mengampanyekan kawasan bebas rokok sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. Hal ini sejalan dengan indikator penilaian KLA yang menuntut adanya perlindungan terhadap anak dari paparan zat berbahaya, termasuk rokok.
Partisipasi aktif siswa dalam kegiatan ini menjadi indikator positif bahwa kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesehatan mulai tumbuh di kalangan generasi muda. Para siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diajak untuk berkomitmen menjadi pelopor di lingkungan masing-masing.
Dengan sinergi lintas sektor yang terus diperkuat, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur optimistis dapat mencapai target sebagai Kabupaten Layak Anak secara menyeluruh. Edukasi berkelanjutan seperti ini diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sadar akan keselamatan dan tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, langkah kecil dari ruang kelas ini diharapkan dapat menjalar luas, menciptakan budaya tertib berlalu lintas dan lingkungan sehat yang dimulai dari pelajar, untuk masa depan Kutai Timur yang lebih aman dan ramah anak.
