Sangatta – Di tengah gempuran budaya modern, tingkilan—seni berbalas pantun khas Kutai Timur—masih berjuang menjaga nyala lentera budayanya. Tradisi yang pernah jadi primadona di tengah masyarakat ini kini hanya tersisa gema di acara adat dan beberapa desa.
Tingkilan bukan hanya sekadar hiburan rakyat. Permainan berbalas pantun dengan iringan musik gambus, kendang, dan gong ini adalah warisan berusia ratusan tahun yang sarat nilai Islam dan kearifan lokal. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Padliyansyah, menegaskan pentingnya pelestarian tingkilan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kutai.
“Tingkilan punya daya tarik tersendiri karena pemainnya harus berbalas pantun sembari memainkan alat musik gambus. Ini bukan hal yang mudah, tapi di sanalah letak tantangannya,” ujar Padliyansyah usai pembukaan Festival Magic Land Kutai Timur 2025 di Polder Ilham Maulana, Jumat (14/11/2025) kemaren.
Menurutnya, permainan ini menuntut kecerdasan dan spontanitas. Pantun yang dibawakan kerap mengandung nasihat, etika sosial, hingga kritik halus yang disampaikan dengan nada jenaka. Tak heran, tingkilan menjadi hiburan sekaligus sarana mendidik masyarakat.
Meski demikian, kesenian ini kini mulai jarang dipentaskan. Hanya beberapa wilayah seperti Desa Tepian Langsat di Kecamatan Bengalon yang masih mempertahankan tradisi ini. Di masa lalu, tingkilan menjadi hiburan rakyat dalam acara pernikahan, khitanan, hingga ritual pertanian.
“Kesenian ini membawa pesan moral dan ajaran Islam, yang diharapkan bisa menjadi media pembelajaran sekaligus hiburan bagi masyarakat,” tambah Padliyansyah.
Tingkilan diyakini telah berkembang sejak abad ke-16, sebagai hasil percampuran budaya Arab dan Melayu yang menyebar bersamaan dengan dakwah Islam. Musik gambus yang menjadi unsur utama berasal dari Timur Tengah, diterima dan diadaptasi oleh masyarakat Kutai menjadi sarana dakwah yang lembut dan menyenangkan.
Kini, sebagian generasi muda mulai mencoba mengenalkan kembali tingkilan dengan sentuhan modern. Mereka memadukan alat musik tradisional dengan ukulele atau tema pantun kekinian agar lebih relevan dengan kondisi saat ini. Langkah ini dinilai efektif untuk menarik minat kalangan muda yang kerap jauh dari tradisi.
“Di samping menjaga tingkilan tradisionalnya, kami juga mengajak anak-anak muda agar mau mengenal dan mencintai kesenian ini. Kami percaya bahwa tradisi ini bisa tetap hidup dengan sentuhan kreatif dari generasi muda,” jelas Padliyansyah.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan lebih nyata. Salah satunya dengan menggelar festival tingkilan secara rutin atau memasukkan seni ini ke dalam kurikulum lokal. Pelatihan bagi generasi muda dan kolaborasi dengan komunitas seni juga penting untuk menghidupkan kembali tingkilan di tengah masyarakat.
“Semoga kita bisa melestarikan tingkilan ini dengan baik. Kesenian ini adalah identitas budaya kita yang patut dijaga dan diperkenalkan kepada dunia,” tutupnya.
Dengan komitmen kolektif dari masyarakat, pemerintah, dan kaum muda, tingkilan diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi bangkit sebagai simbol kebudayaan Kutai Timur yang dikenal secara nasional dan internasional. (ADV/AN/Diskominfo).
