Sangatta – Kebijakan seragam sekolah gratis di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bukan hanya langkah afirmatif bagi dunia pendidikan, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi bagi sektor usaha kecil, khususnya konveksi lokal. Program ini, yang mulai dijalankan sejak akhir November hingga awal Desember 2025, telah menyerap tenaga kerja dari berbagai kecamatan.
Proses pengadaan seragam dilakukan dengan melibatkan UMKM jahit dari beberapa wilayah, termasuk Sangatta Selatan, Kaubun, Kongbeng, dan Muara Bengkal. Mereka bertanggung jawab atas produksi berbagai jenis seragam, dari seragam nasional, olahraga, pramuka, hingga batik khas Kutim.
“Seragam ini kami berikan untuk semua siswa, tanpa membedakan status sekolah. Swasta juga mendapatkan hak yang sama,” jelas Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, pada Kamis (13/11/2025).
Bagi pelaku usaha jahit, proyek ini menjadi peluang besar. Lonjakan pesanan membuat banyak konveksi menambah pekerja sementara, termasuk tukang jahit, penyablon, dan pengemas. Tak hanya mempercepat produksi, hal ini turut menggerakkan perekonomian keluarga yang menggantungkan hidup pada usaha rumahan.
Kementerian dan Pemkab Kutim juga memastikan bahwa program ini tidak dikenakan pungutan apa pun oleh sekolah. Siswa menerima seragam secara lengkap dan gratis, termasuk tas, sepatu, serta perlengkapan belajar untuk jenjang PAUD.
“Seluruhnya gratis, tidak ada pungutan apa pun dari sekolah,” tegas Mulyono.
Selain pengadaan seragam, pemerintah juga menyalurkan beasiswa untuk 20 persen siswa berprestasi dan kurang mampu. Hal ini memperkuat komitmen Pemkab Kutim dalam menghadirkan sistem pendidikan yang adil, merata, dan inklusif.
Program ini membuktikan bahwa kebijakan pendidikan dapat dirancang untuk memberi manfaat ganda: memperkuat akses belajar sambil memberdayakan ekonomi lokal. Ke depan, Pemkab berharap kerja sama dengan UMKM ini menjadi model untuk inisiatif pembangunan daerah lainnya. (ADV/AN/Diskominfo)
