Sangatta – Di tengah derasnya arus digital dan pengaruh globalisasi, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah tegas membangun benteng moral generasi muda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim resmi menambahkan dua jam pelajaran mengaji setiap pekan di sekolah sebagai bagian dari gerakan membentuk siswa berkarakter dan berakhlak.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menekankan bahwa pendidikan tak bisa hanya mengejar angka akademik, tetapi juga harus menyentuh aspek spiritual dan etika.
“Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam moral dan spiritual. Karena itu, kami tambah dua jam pelajaran mengaji setiap minggu,” kata Mulyono, di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, Senin (17/11/2025).
Kebijakan ini dirancang inklusif. Bagi siswa Muslim, pelajaran mengaji menjadi bagian dari muatan lokal (mulok). Sedangkan bagi siswa non-Muslim, sekolah menyelenggarakan kegiatan pembinaan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan sesuai keyakinan masing-masing.
“Intinya sama, semua diarahkan pada penguatan moral dan etika,” jelasnya.
Untuk pelaksanaannya, dua jam mengaji dijadwalkan fleksibel agar tidak mengganggu pelajaran utama. Disdikbud juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan keagamaan dan pengurus masjid dalam menyediakan tenaga pengajar yang kompeten.
“Guru mengaji tidak boleh sukarela. Mereka harus digaji resmi dari APBD agar program ini berkelanjutan,” tegas Mulyono.
Program ini tidak sekadar membentuk siswa fasih membaca Al-Qur’an, namun juga berfungsi sebagai strategi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan moral anak-anak Kutim.
“Anak-anak kita tumbuh di dunia yang penuh distraksi. Melalui pendidikan karakter, kita tanamkan nilai-nilai dasar agar mereka tidak kehilangan arah,” ungkapnya.
Respon positif datang dari masyarakat dan tokoh lintas agama yang menilai kebijakan ini sebagai upaya menciptakan pendidikan yang selaras dengan nilai spiritual sekaligus menjaga semangat kebhinekaan.
Sekolah-sekolah di Kutim kini tak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, akhlak, dan toleransi, menjadikan pendidikan sebagai pondasi manusia seutuhnya. (ADV/AN/Diskominfo).
