Sangatta – Impian Kutai Timur untuk menjadi pionir pendidikan digital nasional menghadapi tantangan nyata di lapangan. Meski pelatihan guru dan penguatan infrastruktur digital terus digenjot, akses internet dan listrik yang stabil masih menjadi persoalan klasik, terutama di wilayah pedalaman dan terpencil.
“Tantangan kita, semua juga memahami bahwa kondisi dan letak geografis Kutai Timur itu menjadi tantangan terkait pemenuhan stabilnya energi listrik dan energi internet,” ungkap Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Irma Yuwinda, saat ditemui di Kantor Bupati pada Jumat (14/11/2025) kemaren.
Irma menyebutkan bahwa keberhasilan transformasi digital di sekolah sangat bergantung pada dua faktor penting: jaringan internet yang merata dan ketersediaan listrik yang andal. Menyadari hal ini, pihaknya menggandeng Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kutim untuk memperluas pemasangan jaringan internet, termasuk memanfaatkan layanan satelit seperti Starlink.
“Semua sedang berprogres terkait pemenuhan internet sekolah yang pemasangannya berkolaborasi dengan Dinas Kominfo. Ke depan, yang sudah terpasang diarahkan pembayarannya melalui BOS, EBOSP ataupun BOSDA, untuk pembayaran bulanannya dari Starlink atau internet itu,” jelas Irma.
Disdikbud Kutim juga menyusun panduan teknis agar kepala sekolah dapat menyusun perencanaan anggaran secara tepat, khususnya untuk kebutuhan operasional internet. Hal ini penting agar internet sekolah tidak hanya terpasang, tetapi juga berfungsi secara berkelanjutan.
“Kami sudah membicarakan bagaimana pola mengarahkan Bapak Ibu Kepala Sekolah dalam membuat perencanaan pembayaran kuota Starlink atau internet itu,” tambahnya.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari pendekatan strategis pemerintah daerah dalam menghadirkan pemerataan akses pendidikan berbasis digital. Dengan sistem perencanaan yang terstruktur dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan seluruh sekolah di Kutim, termasuk yang berada di daerah pelosok, dapat menikmati fasilitas internet untuk mendukung pembelajaran modern.
Meskipun belum seluruh tantangan terselesaikan, pemerintah optimistis bahwa dengan upaya simultan, Kutim bisa membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang dalam menciptakan ekosistem pendidikan digital yang maju dan inklusif. (ADV/AN/Diskominfo).
