Sangatta – Kebangkitan budaya di Kutai Timur menampakkan wujud nyata dengan hadirnya festival tahunan di hampir seluruh 18 kecamatan. Perkembangan ini menjadi indikator kuat bahwa budaya bukan hanya program pemerintah daerah, melainkan juga kebutuhan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat desa dan kecamatan.
Menurut Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, inisiatif festival yang kini menyebar hingga ke pelosok menunjukkan bahwa identitas budaya lokal semakin mendapat tempat di hati warga.
“Dulu festival hanya digelar di Sangatta. Sekarang hampir semua kecamatan punya even sendiri, dan itu menandakan kebudayaan sudah menjadi kesadaran kolektif,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Setiap wilayah memiliki ciri khas tersendiri dalam pelaksanaan festival. Di pedalaman, ritual adat dan permainan tradisional menjadi daya tarik utama, sementara wilayah pesisir meriah dengan festival kuliner laut, parade perahu, hingga pertunjukan seni di tepi pantai. Beberapa kecamatan seperti Muara Wahau dan Bengalon bahkan menggelar festival seni kolosal yang melibatkan pelajar dan komunitas lokal.
Disdikbud Kutim turut ambil peran dengan memberikan pendampingan teknis, meskipun anggaran tidak selalu besar. Bantuan diberikan dalam bentuk penyediaan panggung sederhana, fasilitasi seniman lokal, hingga dokumentasi kegiatan budaya.
“Kami tidak harus selalu hadir dengan dana besar. Yang penting adalah mendampingi agar masyarakat bisa mandiri mengelola dan mengembangkan festivalnya,” jelas Padliyansyah.
Salah satu dampak positif dari merebaknya festival budaya ini adalah meningkatnya keterlibatan anak muda. Kini semakin banyak sanggar tari, grup musik tradisional, dan komunitas kreatif bermunculan di desa-desa.
“Pelestarian budaya sejati dimulai dari desa. Ketika anak-anak aktif berkesenian, itulah tanda bahwa budaya hidup,” tambahnya.
Tak hanya berdampak sosial, geliat budaya ini juga menggerakkan sektor ekonomi kreatif. Produk kerajinan, makanan khas, hingga seni pertunjukan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal dan pengunjung dari luar daerah.
“Kutai Timur bukan cuma kaya sumber daya alam, tapi juga kaya warisan budaya. Festival di kecamatan menjadi bukti bahwa masyarakat kita percaya diri menampilkan budayanya sendiri,” pungkas Padliyansyah. (ADV/AN/Diskominfo).
