Sangatta – Dalam semilir angin sore yang menyapu pelataran Masjid Agung Al-Faruq, Minggu (16/11/2025), Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman meresmikan pameran sejarah Islam yang menyajikan perjalanan panjang dakwah dari era Nabi Musa hingga ke wilayah Kutim. Pameran ini, kata Ardiansyah, bukan sekadar tontonan, tapi sarana penting untuk mengedukasi generasi muda tentang akar peradaban Islam di daerahnya.
“Banyak anak-anak kita di Kutim yang belum memahami sejarah Islam di daerahnya sendiri. Maka, pameran ini harus dimanfaatkan sebagai ajang pembelajaran sejarah dan budaya,” tegas Ardiansyah dalam sambutannya.
Pameran yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim ini menampilkan jalur penyebaran Islam di Kalimantan Timur, termasuk melalui jalur pesisir, sungai Mahakam, dan koneksi wilayah Kukar ke pedalaman Kutim. Ditampilkan pula miniatur masjid-masjid bersejarah dan dokumentasi komunitas Muslim sejak dekade 1970-an di Sangatta.
Bupati Ardiansyah menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah Islam sebagai bagian dari penguatan karakter dan jati diri daerah. Menurutnya, tanpa pemahaman terhadap akar sejarah, generasi muda akan kehilangan orientasi identitas budaya.
“Sejarah bukan sekadar masa lalu. Ia adalah fondasi karakter. Dan Islam punya peran besar dalam membentuk Kutim seperti sekarang,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan harapannya agar pameran ini diperluas ke sekolah-sekolah atau difasilitasi dalam bentuk digital agar lebih mudah diakses oleh pelajar di seluruh Kutim, termasuk wilayah terpencil.
Dengan semangat membumikan sejarah lokal, pameran ini menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus edukatif. Masjid Agung Al-Faruq kini tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga titik awal kebangkitan kesadaran sejarah dan kebudayaan Islam di Kutim, seperti yang diharapkan oleh pemimpinnya. (ADV/AN/Diskominfo).
