Balikpapan – Program jaminan kesehatan ibarat jaring pengaman sosial yang hanya kuat jika dirajut bersama. Semangat itulah yang mengemuka dalam pertemuan antara BPJS Kesehatan dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Timur, Senin (4/5/2026), guna memperkuat pemahaman masyarakat terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor MUI Kota Balikpapan ini menghadirkan Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan , Kepala Dewan Penasihat Syariah BPJS Kesehatan yang juga Wakil Ketua MUI Pusat , Wakil Ketua MUI Provinsi Kalimantan Timur , serta Ketua MUI Kota Balikpapan . Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberlanjutan program JKN.
Dalam sambutannya, Cholil Nafis menegaskan bahwa konsep JKN selaras dengan nilai-nilai Islam, khususnya prinsip ta’awun atau tolong-menolong. Menurutnya, sistem gotong royong yang diterapkan dalam JKN mencerminkan kepedulian sosial, di mana peserta yang sehat membantu peserta yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Program JKN mencerminkan semangat ta’awun atau tolong-menolong, di mana peserta yang sehat membantu yang sakit. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kepedulian sosial dan solidaritas. Oleh karena itu, penting bagi kita semua, termasuk MUI, untuk terus memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat agar tidak ada keraguan terhadap keikutsertaan dalam program ini,” ujarnya.
Sementara itu, Akmal Budi Yulianto menyoroti pentingnya peran tokoh agama dalam membangun kesadaran masyarakat terkait kepesertaan JKN. Ia menilai, pendekatan melalui tokoh agama akan lebih efektif dalam menyampaikan pesan edukatif, terutama terkait kewajiban membayar iuran dan menjaga status kepesertaan tetap aktif.
“Kami menyadari bahwa tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi dan perilaku masyarakat. Melalui sinergi dengan MUI, kami berharap pesan-pesan edukasi terkait pentingnya menjaga keaktifan kepesertaan dan membayar iuran tepat waktu dapat tersampaikan dengan lebih efektif dan diterima secara luas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan Program JKN sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Tanpa kepatuhan dalam membayar iuran dan pemanfaatan layanan secara bijak, program ini akan sulit berjalan optimal.
Kolaborasi ini juga menjadi langkah konkret dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait sistem jaminan kesehatan nasional. Dengan dukungan MUI sebagai lembaga keagamaan yang memiliki pengaruh luas, diharapkan tidak ada lagi keraguan atau kesalahpahaman terkait prinsip dan manfaat JKN.
Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan keagamaan dalam membangun kepercayaan publik. Melalui kerja sama ini, BPJS Kesehatan dan MUI Kalimantan Timur berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat agar Program JKN dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh warga.
