Sangatta – Kutai Timur, salah satu kabupaten di Kalimantan Timur, terus mengupayakan peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakatnya melalui berbagai inovasi dan strategi.
Dalam kegiatan Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kutai Timur, Kepala Dinas Kesehatan, dr. Bahrani, memaparkan enam pilar transformasi kesehatan yang menjadi fokus pemerintah daerah untuk memperkuat sistem kesehatan lokal.Enam Pilar Transformasi Kesehatan
1. Transformasi Layanan Primer
Fokus utama dalam pilar ini adalah memperkuat layanan kesehatan dasar di puskesmas, klinik, dan posyandu. Tujuannya adalah memastikan masyarakat di wilayah terpencil dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas.
“Kami ingin layanan di puskesmas bukan sekadar pelayanan medis, tetapi juga menjadi pusat pencegahan penyakit melalui edukasi dan promosi kesehatan,” jelas dr. Bahrani di Kantor Bupati Kutim, Sabtu (30/11/2024).
2. Transformasi Layanan Rujukan
Pemerintah daerah terus melengkapi fasilitas kesehatan dengan alat kesehatan canggih. Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi perhatian untuk meningkatkan layanan kuratif dan rehabilitatif di rumah sakit rujukan.
“Kami berharap masyarakat Kutai Timur tidak perlu lagi merujuk pasien keluar daerah untuk mendapatkan pengobatan yang memadai,” tambahnya.
3. Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan
Pilar ini diarahkan untuk meningkatkan kesiapan Kutai Timur dalam menghadapi tantangan kesehatan global, seperti pandemi, sekaligus menangani persoalan kesehatan lokal. Langkah konkret yang dilakukan mencakup penguatan regulasi dan pelatihan sumber daya manusia kesehatan agar siap menghadapi situasi darurat kesehatan.
4. Transformasi Pembiayaan Kesehatan
Dalam hal pembiayaan, Kutai Timur menerapkan sistem kapitasi di puskesmas untuk memastikan pelayanan kesehatan lebih merata.
“Kami ingin menghapus kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedalaman melalui skema pembiayaan yang lebih berkeadilan,” ujar dr. Bahrani.
5. Transformasi SDM Kesehatan
Masalah distribusi tenaga kesehatan, terutama dokter gigi, menjadi salah satu tantangan utama. Saat ini, sebagian besar dokter gigi terkonsentrasi di ibu kota kabupaten, Sangatta.
“Distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata ini menjadi perhatian kami. Ke depan, kami akan terus berupaya mendistribusikan tenaga kesehatan ke seluruh wilayah agar layanan bisa lebih inklusif,” tegasnya.
6. Transformasi Teknologi Kesehatan
Teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan akses layanan kesehatan, khususnya di daerah pedalaman.
Kedepan, Kutai Timur akan mengembangkan sistem pengobatan jarak jauh (telemedicine) yang memungkinkan masyarakat di wilayah terpencil berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus datang ke rumah sakit.
Tantangan dan Upaya Perbaikan
Meski berbagai langkah telah dilakukan, dr. Bahrani mengakui bahwa masih ada tantangan besar yang dihadapi dunia kesehatan di Kutai Timur. Salah satu persoalan yang disoroti adalah keterbatasan infrastruktur kesehatan di daerah terpencil.
“Selain distribusi dokter gigi, kami juga masih kekurangan tenaga kesehatan lain, seperti perawat dan bidan di beberapa wilayah,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan IDI dalam mengatasi berbagai persoalan tersebut.
“Melalui Muscab ini, kami berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan IDI untuk menciptakan sistem kesehatan yang adaptif, berkualitas, dan merata bagi seluruh masyarakat Kutai Timur,” ujarnya.
Harapan ke Depan
Transformasi kesehatan di Kutai Timur menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Dengan melibatkan berbagai pihak, seperti IDI dan lembaga kesehatan lainnya, pemerintah optimis dapat mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan.
“Kami sedang berupaya melengkapi fasilitas kesehatan dengan peralatan modern, serta mendukung pengembangan teknologi pengobatan jarak jauh agar pelayanan kesehatan semakin inklusif,” terang dr. Bahrani.
Masyarakat Kutai Timur juga menyambut baik upaya ini. Mereka berharap program-program yang telah direncanakan dapat segera terealisasi, sehingga tidak ada lagi ketimpangan layanan kesehatan antara masyarakat di perkotaan dan pedalaman.
Melalui enam pilar transformasi yang dipaparkan, Kabupaten Kutai Timur menunjukkan komitmennya dalam menciptakan sistem kesehatan yang kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
“Kami tidak hanya fokus pada kuratif, tetapi juga preventif. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat Kutai Timur yang sehat, sejahtera, dan produktif,” tutup dr. Bahrani.
