Sangatta – Dalam upaya menata ulang wajah kawasan kumuh, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kutai Timur (Kutim) menggelar seminar antara terkait master plan dan detail engineering design (DED) kawasan Sepaso, Rabu (13/11/2024). Acara ini dihadiri oleh para pejabat teknis, tokoh masyarakat, dan perwakilan instansi terkait yang turut memberikan masukan dalam proses perencanaan penataan kawasan.
Seminar dibuka oleh Kabid Kawasan Permukiman, Muhammad Noor yang menyampaikan bahwa langkah ini merupakan strategi penting untuk mengurangi luas wilayah kumuh di Kutim. Ia menegaskan bahwa perbaikan kawasan permukiman menjadi prioritas demi menciptakan lingkungan yang layak huni bagi masyarakat.
“Kami melihat kebutuhan mendesak untuk melakukan penataan kembali kawasan permukiman kumuh di Sepaso, baik itu melalui konsep off-site maupun on-site reconstruction,” kata Noor dalam sambutannya.
Master plan dan DED yang dibahas dalam seminar ini dirancang sebagai panduan teknis dan strategis untuk penataan kawasan, mencakup pembangunan drainase yang lebih baik, pengelolaan sampah yang efisien, peningkatan akses jalan, serta penyediaan fasilitas umum yang memadai. Dokumen ini akan menjadi dasar pelaksanaan program-program perbaikan lingkungan yang berkelanjutan.
Salah satu topik penting dalam diskusi adalah perbandingan dua pendekatan utama penataan kawasan kumuh: off-site reconstruction (relokasi warga ke lokasi baru) dan on-site reconstruction (perbaikan langsung di lokasi eksisting). Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri.
“Relokasi memungkinkan pemerintah membangun dari awal dengan kualitas lebih baik, tapi membutuhkan waktu dan kesiapan masyarakat. Sementara, on-site reconstruction lebih ramah terhadap keberadaan warga, namun butuh rekayasa teknis agar efisien di lahan padat,” jelas Noor.
Ia menekankan bahwa aspirasi masyarakat menjadi komponen utama dalam menentukan pendekatan yang akan diterapkan. Karenanya, seminar ini digelar untuk menjaring masukan yang relevan dan kontekstual dari warga serta tokoh lokal.
“Pilihan off-site dan on-site keduanya perlu dipertimbangkan dengan saksama. Kami berharap diskusi hari ini bisa menjaring masukan dari masyarakat sehingga rencana yang kita buat benar-benar sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.
Dinas Perumahan Kutim menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses ini hingga tahap implementasi. Muhammad Noor memastikan bahwa tahapan pelaksanaan nantinya akan tetap berpegang pada rencana induk yang disusun dengan matang serta melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif.
Seminar ini menjadi bagian dari langkah nyata Pemkab Kutim dalam menekan angka kawasan kumuh yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah. Diharapkan, dokumen hasil seminar ini segera ditindaklanjuti untuk mewujudkan permukiman yang sehat, aman, dan manusiawi di Sepaso.
