Sangatta – Perlahan namun pasti, grafik stunting di Kecamatan Batu Ampar menunjukkan tren menurun. Dari 29 kasus pada November, angka itu susut menjadi 17 kasus pada Desember 2025. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa strategi jemput bola dan validasi data yang ketat mulai membuahkan hasil nyata.
Camat Batu Ampar, Akhmadsyah, menyampaikan capaian tersebut dalam Podcast Bangga Kencana bertema Peran TPPS Kecamatan Mendukung Layanan Cap Jempol Stop Stunting di Kutai Timur yang digelar di Ruang Multimedia Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Kutai Timur, Rabu (18/2/2025). Forum diskusi itu menjadi ruang evaluasi sekaligus berbagi praktik baik percepatan penurunan stunting di tingkat kecamatan.
Berdasarkan data, terdapat 281 keluarga berisiko stunting di Batu Ampar. Kondisi ini mendorong Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan untuk melakukan langkah sistematis dengan pendekatan berbasis by name by address. Melalui metode tersebut, setiap keluarga dan anak yang terdata dipastikan keberadaannya serta kondisi terkini di lapangan.
“Setiap data yang kami terima harus diverifikasi kembali. Bisa saja data itu belum terbarui atau kondisi di lapangan sudah berubah,” tegas Akhmadsyah.
Ia menjelaskan, proses verifikasi dilakukan bersama kepala desa dan unsur terkait dengan turun langsung ke lapangan. Pendekatan ini dinilai penting agar intervensi tidak hanya berbasis angka di atas kertas, melainkan sesuai kondisi riil masyarakat. Setelah data dinyatakan valid, langkah intervensi segera dilakukan tanpa menunggu waktu lama.
Sejumlah program dijalankan secara terintegrasi, mulai dari pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak stunting, edukasi gizi kepada orang tua, hingga penguatan koordinasi lintas sektor untuk intervensi spesifik dan sensitif. Aspek yang disentuh tidak hanya soal asupan makanan, tetapi juga sanitasi lingkungan, pola asuh, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala.
Akhmadsyah menegaskan bahwa penanganan stunting bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif atau laporan capaian semata. Menurutnya, dampak stunting sangat panjang karena menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Begitu data valid, harus langsung kita intervensi. Jangan sampai dibiarkan karena dampaknya panjang bagi masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan hari ini menjadi fondasi penting menuju visi Indonesia Emas 2045. Generasi yang sehat dan berkualitas, kata dia, tidak lahir secara instan, melainkan melalui kerja konsisten sejak sekarang.
“Kalau kita tidak bekerja sekarang, sulit mencapai target itu. Hasil kerja hari ini akan terlihat di masa depan,” pungkasnya.
Penurunan dari 29 menjadi 17 kasus dalam satu bulan menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah kecamatan, desa, tenaga kesehatan, serta masyarakat dapat menghasilkan perubahan signifikan. Tantangan memang masih ada dengan ratusan keluarga berisiko stunting, namun optimisme terus dijaga melalui kerja nyata dan intervensi terukur.
Dengan strategi validasi data dan respons cepat, Batu Ampar menegaskan komitmennya untuk terus menekan angka stunting secara berkelanjutan demi masa depan generasi Kutai Timur yang lebih sehat dan berdaya saing.
