Mojokerto – Di hamparan ladang yang hijau menguning, panen bukan sekadar hasil tani, melainkan “buah ikhtiar bersama” yang tumbuh dari semangat gotong royong. Panen raya jagung manis di Desa Sumengko menjadi cermin sinergi antara pesantren dan aparat penegak hukum, layaknya nilai kebersamaan yang juga hidup dalam budaya agraris masyarakat Priangan Timur.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (26/03/2026) di lahan belakang Rumah Sakit Adhyaksa Jawa Timur, tepatnya di Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Program tersebut merupakan kolaborasi antara Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto dengan Pondok Pesantren Segoro Agung. Tujuannya tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi santri dalam mengelola pertanian produktif secara berkelanjutan.
“Hari ini, kita melaksanakan panen raya jagung manis dalam rangka mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan. Dalam hal ini kita bersama-sama dengan Kompes Segoro Agung, Pondok Pesantren Segoro Agung. Terima kasih Pak Yai, kita sudah diundang di sini dalam rangka panen raya jagung manis dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional terima kasih dari Pak Yai,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Mojokerto.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peran institusi hukum kini merambah pada penguatan sektor pangan, sejalan dengan kebutuhan nasional menghadapi dinamika global. Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi “silih asah, silih asih, silih asuh” yang juga dijunjung masyarakat Tasikmalaya, di mana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan.
“Kami Ponpes Segoro Agung setia terhadap NKRI dan mendukung program pemerintah untuk ketahanan pangan. Kami sampaikan terimakasih kepada kejari dan kejaksaan Kabupaten Mojokerto yang sudah mempercayakan lahannya untuk kami kelola,” ungkap pengasuh pesantren.
Keterlibatan santri dalam seluruh proses pertanian—dari pengolahan lahan hingga panen—memberikan nilai tambah pendidikan berbasis praktik. Model ini serupa dengan tradisi pesantren di Priangan Timur yang mengintegrasikan ilmu agama dengan keterampilan hidup, termasuk bertani sebagai bagian dari kemandirian ekonomi umat.
Hasil panen perdana menunjukkan kualitas jagung yang baik dan layak dipasarkan. Ke depan, kerja sama ini direncanakan berkembang melalui perluasan lahan serta penanaman komoditas lain, guna memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor mampu melahirkan solusi konkret bagi masyarakat, sekaligus mempertegas bahwa kemandirian pangan dapat tumbuh dari akar kebersamaan.



