Sangatta – Sejarah Islam di Kutai Timur kembali dihidupkan melalui sebuah forum ilmiah yang digelar oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim di Masjid Agung Al-Faruq, Senin (17/11/2025). Seminar ini menyatukan akademisi, peneliti, tokoh agama, dan ormas Islam untuk membedah perjalanan dakwah Islam di kawasan timur Nusantara secara lebih kritis dan kontekstual.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menekankan pentingnya membaca ulang proses masuknya Islam di Kutai, bukan sebagai keterlambatan, melainkan sebagai indikator kuatnya relasi dagang dan politik masa lalu.

“Islam memang datang lebih akhir dibanding daerah lain, tapi justru itu menunjukkan kuatnya jejaring perdagangan dan pengaruh politik di masa itu,” ujarnya di hadapan para peserta seminar.

Padliyansyah menjelaskan, para pedagang Bugis, Banjar, dan Jawa menjadi aktor utama penyebaran Islam melalui jalur pesisir dan sungai. Posisi Kutai yang berada di antara kekuatan politik seperti Bulungan, Tidung, Paser, dan Banjar menjadikan wilayah ini sebagai simpul penting dalam lintasan budaya dan dakwah.

Ia juga mengangkat nama Datuk Tunggang Parangan, seorang ulama dari Tanete, Sulawesi Selatan, yang turut berperan dalam penyebaran Islam di sepanjang Sungai Mahakam hingga ke pedalaman Kutai.

“Mahakam bukan cuma aliran air, tapi juga jalan dakwah. Dari sinilah ajaran Islam menyebar ke kampung-kampung,” katanya.

Dalam struktur Kesultanan Kutai, lanjut Padliyansyah, posisi petinggi kampung bukan hanya administratif, melainkan juga sebagai perpanjangan tangan misi dakwah Islam. Fenomena ini membuktikan bahwa Islam telah melekat dalam struktur sosial masyarakat Kutai sejak awal.

Kisah dinamika masyarakat pasca tsunami 1921 di Kampung Godang, Sangkulirang, yang berpindah ke Banua Baru, turut dibahas sebagai contoh interaksi antara bencana, penguatan komunitas Muslim, dan politik lokal dalam membentuk peradaban Islam.

Seminar ini juga memetakan situs penting peninggalan Islam, seperti Makam Habib Senumpak di Sangkulirang, serta kompleks makam habib di Sekrat dan Kajang, dan masjid bersejarah di Sangkulirang serta Sangatta Selatan.

“Islam bukan hanya agama di Kutai, tapi menjadi pondasi sosial dan budaya kampung-kampung kita,” jelas Padliyansyah.

Ia berharap narasi sejarah Islam lokal dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan dan menjadi rujukan bagi generasi muda.

“Sejarah Islam Kutai bukan milik akademisi saja, tapi milik semua warga. Tugas kami adalah menjembatani agar cerita ini hidup kembali di ruang kelas dan ruang budaya,” tutupnya. (ADV/AN/Diskominfo)

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version