Sangatta – Irama rebana menggema dari halaman Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta, menyatu dengan semangat anak-anak muda yang membawa lantunan pujian dalam irama ritmis. Di tengah pameran bertajuk “Jejak Peradaban Islam dari Nabi Muhammad SAW hingga Kutai Timur”, lomba rebana justru mencuri sorotan dan menjadi daya tarik utama acara kebudayaan Islam tersebut.

Diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, kegiatan ini bertujuan merangkul generasi muda melalui seni musik Islami yang sarat makna dan tradisi. Lomba rebana diikuti berbagai lembaga pendidikan dan komunitas Islam dari seluruh wilayah Kutai Timur, menampilkan penampilan penuh semangat dari para peserta yang sebagian besar masih duduk di bangku sekolah.

“Ini bukan sekadar kompetisi, ini adalah warisan,” ujar Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Kamis (20/11/2025).

Ia menekankan pentingnya kegiatan ini dalam menjaga seni tradisional Islam tetap hidup di tengah arus modernisasi yang begitu cepat.

Dalam kompetisi yang berlangsung selama satu hari penuh, MTS 2 Kutai Timur tampil memukau dan berhasil menyabet Juara I dengan total nilai 277,5. Diikuti oleh Majelis Ulil Albani sebagai Juara II dengan nilai 269 dan MT Mardatillah sebagai Juara III dengan nilai 263.

Sementara itu, posisi Harapan I diraih oleh SMAN 1 Sangatta Utara (257,5), Harapan II oleh MIN 1 Kutai Timur (257), dan Harapan III oleh SMPN 3 Sangatta Utara (252). Para peserta dinilai berdasarkan kekompakan, teknik permainan, kreativitas aransemen, serta kemampuan vokal dalam membawakan lagu-lagu bernuansa religi.

“Anak-anak ini luar biasa. Mereka bukan hanya tampil, tapi benar-benar menyatu dengan alat musiknya. Kami bangga, sampai-sampai para juri bingung menentukan juaranya,” ujar Padliyansyah.

Suasana lomba pun semarak dengan dukungan penonton yang datang dari kalangan guru, orang tua, hingga masyarakat umum. Suara tepuk tangan dan takbir mengiringi setiap akhir penampilan, menciptakan atmosfer religius sekaligus kompetitif yang positif.

Acara ini menjadi bukti bahwa rebana Qasidah bukan sekadar musik pengiring tradisi, tetapi juga media dakwah yang kuat dan mampu menyentuh hati generasi muda. Di tengah derasnya hiburan digital, lantunan rebana di Sangatta menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Islam bisa terus disampaikan lewat seni yang sederhana namun penuh makna.

Disdikbud Kutim berkomitmen menjadikan lomba rebana Qasidah sebagai agenda tahunan dan membuka peluang untuk lebih banyak jenis lomba seni Islami lainnya. Harapannya, kesenian Islam dapat terus tumbuh dan dinikmati lintas generasi, menyatu dalam kehidupan budaya masyarakat Kutai Timur. (ADV/AN/Diskominfo).

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version