Sangatta – Di tengah geliat pembangunan, Kutai Timur melangkah lebih jauh dengan mewujudkan pendidikan yang benar-benar merangkul semua anak. Melalui program pendidikan inklusif, daerah ini menghadirkan ruang belajar yang tak lagi memisahkan, tetapi menyatukan anak-anak dengan berbagai kondisi fisik dan mental dalam satu lingkungan pendidikan yang setara.

Program ini dijalankan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkeadilan. Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyebut bahwa kebijakan ini bertujuan agar tidak ada anak yang tersisih hanya karena perbedaan kondisi.

“Kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik atau kondisi khusus. Semua sekolah nanti punya minimal satu guru inklusi,” kata Mulyono di Hotel Rayal Victoria Sangatta Utara, Senin (17/11/2025).

Saat ini, sebanyak 121 guru inklusi telah lulus pelatihan resmi dan siap diterjunkan ke sekolah-sekolah. Sementara itu, 300 guru lainnya sedang menjalani pendidikan program inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan pemerintah menargetkan jumlah ini meningkat hingga 600 orang pada tahun depan.

“Kami tidak cukup hanya dengan pelatihan singkat. Para guru harus punya kompetensi akademik agar benar-benar mampu mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus,” tegas Mulyono.

Program ini menjadi jawaban atas keterbatasan akses ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang belum tersedia di seluruh kecamatan. Dengan menghadirkan guru inklusi di sekolah reguler, anak-anak dengan kebutuhan khusus kini dapat belajar bersama teman-teman mereka tanpa merasa terasingkan.

“Konsepnya bukan lagi satu sekolah inklusi, tapi semua sekolah harus siap menjadi inklusif,” ujarnya.

Lebih dari sekadar membuka akses pendidikan, kebijakan ini juga mengajarkan nilai-nilai penting seperti empati, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman sejak dini. Para guru dituntut menjadi pendamping yang memahami bahwa setiap anak unik dan berharga.

“Pendidikan inklusif ini bukan sekadar program, tapi panggilan kemanusiaan,” kata Mulyono menegaskan filosofi di balik kebijakan tersebut.

Langkah progresif ini mencerminkan arah baru pendidikan di Kutim: membangun sistem yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berempati, inklusif, dan memanusiakan perbedaan. (ADV/AN/Diskominfo)

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version