Sangatta – Peran sentral Wakil Bupati Kutai Timur dalam percepatan penurunan stunting kembali mengemuka. Sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kutim, Mahyunadi memimpin langsung Rapat Koordinasi Kolaborasi Program Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting bersama Forum CSR PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan para subkontraktor. Kegiatan ini digelar di Ruang Rechall Wisma Raya PT KPC, Selasa (23/12/2025), dan menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor.
Rapat strategis tersebut turut dihadiri Bupati Kutim selaku pengarah TPPS, jajaran manajemen , kepala perangkat daerah terkait, organisasi mitra, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), hingga para penyuluh lapangan keluarga berencana di wilayah Ring I. Namun, sorotan utama tertuju pada Mahyunadi yang secara tegas menggarisbawahi pentingnya kolaborasi nyata dan terukur.
Dalam sambutannya, Mahyunadi menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting bukan pekerjaan satu institusi, melainkan agenda bersama yang menuntut keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Ia menekankan, pemerintah daerah tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan dunia usaha, khususnya melalui pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang tepat sasaran.
“Percepatan penurunan stunting tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi nyata antara perangkat daerah, dunia usaha, organisasi mitra, hingga masyarakat. Kuncinya adalah intervensi yang tepat sasaran dan berbasis data,” tegas Mahyunadi.
Sebagai Ketua TPPS Kutim, Mahyunadi memaparkan perkembangan data terkini yang menunjukkan tren penurunan jumlah Keluarga Risiko Stunting (KRS). Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA) dan aplikasi Elsimil, jumlah KRS pada semester II tahun 2023 tercatat 15.576 kepala keluarga. Angka tersebut menurun menjadi 12.362 kepala keluarga pada semester I tahun 2024, dan kembali turun pada semester II tahun 2024 menjadi 11.973 kepala keluarga.
Meski demikian, Mahyunadi mengingatkan bahwa capaian tersebut belum boleh membuat semua pihak lengah. Ia mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Kutim masih mengalami dinamika. Setelah turun dari 39,7 persen pada 2019 menjadi 24,7 persen pada 2022, angka stunting sempat naik pada 2023 menjadi 29 persen, lalu turun kembali pada 2024 menjadi 26,9 persen. Sementara data E-PPGBM menunjukkan angka stunting 12,1 persen pada 2022, 11,6 persen pada 2023, dan meningkat menjadi 15 persen pada semester I 2024.
“Hasil ini menunjukkan kita berada di jalur yang benar, tetapi belum aman. Sedikit saja lengah, angka stunting bisa kembali meningkat. Karena itu, kolaborasi harus terus diperkuat,” ujarnya.
Mahyunadi juga menyoroti berbagai capaian strategis TPPS Kutim di bawah kepemimpinannya. Salah satunya adalah diraihnya Peringkat Teristimewa II pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II LAN RI tahun 2025 melalui proyek perubahan bertajuk Cap Jempol Stop Stunting. Program ini menjadi tulang punggung layanan jemput bola penanganan stunting dan kemiskinan di Kutim.
Tak hanya itu, Kutim juga sukses mendorong keterlibatan individu dan organisasi sebagai orang tua asuh cegah stunting, meraih penghargaan di tingkat provinsi dan nasional, serta mencatatkan Cap Jempol Stop Stunting sebagai Hak Kekayaan Intelektual di Kementerian Hukum RI. Bahkan, program tersebut mengantarkan Kutim sebagai pilot project nasional Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) pada 2026.
Dalam forum tersebut, Mahyunadi secara khusus mengajak perusahaan dan kontraktor KPC untuk aktif memanfaatkan data By Name By Address (BNBA) sebagai dasar intervensi CSR. Ia menilai, CSR yang berbasis data akan lebih efektif menyentuh keluarga berisiko stunting dan anak stunting secara langsung.
“Kami berharap perusahaan proaktif mendalami data sasaran dan menjadikannya dasar intervensi CSR di wilayah masing-masing,” katanya.
Ke depan, Mahyunadi menegaskan TPPS Kutim akan mendorong penguatan peran pemerintah desa melalui optimalisasi anggaran desa dan RT, penguatan CSR perusahaan tambang dan perkebunan, serta penugasan kepala perangkat daerah sebagai orang tua asuh keluarga berisiko stunting. Dengan kepemimpinan yang konsisten dan kolaborasi lintas sektor, Mahyunadi optimistis Kutai Timur mampu menjaga tren penurunan stunting dan melangkah mantap menuju Generasi Emas Indonesia 2045.


