Samarinda — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk memperkuat pengelolaan Kampung Keluarga Berkualitas (KB) dalam upaya menurunkan angka stunting. Bertempat di Hotel Grand Kartika, Samarinda, kegiatan ini bertujuan untuk mempersiapkan para pengelola Kampung KB agar dapat memberikan pelayanan yang optimal dalam mengatasi permasalahan gizi buruk dan mencegah stunting di masyarakat.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menegaskan pentingnya Bimtek ini sebagai langkah konkret dalam memberikan pembekalan kepada para pengelola Kampung KB di daerah. “Setelah mengikuti Bimtek ini, para pengelola Kampung KB diharapkan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, baik dalam hal sinergi dengan pemerintah desa, kader, maupun penyuluh,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa peran aktif Kampung KB sangat penting dalam mendukung program penurunan stunting yang menjadi perhatian serius pemerintah.
Penguatan Program Rumah Data dan Dapur Dahsyat
Achmad Junaidi menjelaskan bahwa Bimtek ini turut membahas dua program utama di setiap Kampung KB, yaitu Program Rumah Data dan Dapur Dahsyat. Rumah Data berfokus pada pengelolaan data keluarga secara terstruktur, yang penting untuk memantau kondisi kesehatan dan gizi keluarga, terutama anak-anak yang berada dalam kondisi rawan gizi. Sementara itu, Program Dapur Dahsyat adalah inisiatif untuk memantau dan memastikan asupan gizi anak-anak, terutama bagi mereka yang terindikasi atau berisiko mengalami stunting.
“Program Dapur Dahsyat sangat relevan untuk memenuhi standar gizi bagi anak-anak yang berisiko. Kami ingin memastikan bahwa pengelola Kampung KB memahami bagaimana pentingnya pemantauan asupan gizi untuk mencegah stunting sejak dini,” jelasnya. Menurut Junaidi, intervensi gizi melalui pemantauan di tingkat keluarga akan memberikan dampak yang signifikan dalam menekan angka stunting di Kutai Timur.
Kemajuan Pembentukan Kampung KB di Kutim
Sejauh ini, Kabupaten Kutai Timur telah berhasil membentuk 128 Kampung KB di berbagai desa. Achmad Junaidi menargetkan agar pada tahun 2025, semua desa di Kutai Timur telah memiliki Kampung KB yang berfungsi secara efektif. Dalam Bimtek kali ini, sebanyak 70 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai Kampung KB di Kutim turut hadir, termasuk sejumlah kepala desa dan pasangannya. Junaidi mengapresiasi antusiasme peserta yang tinggi dan menyebut bahwa kesadaran akan pentingnya program Kampung KB mulai tumbuh di tingkat desa.
“Kami sangat menghargai semangat para peserta Bimtek yang menunjukkan bahwa program penurunan stunting kini sudah mendapat perhatian serius di tingkat desa. Ini adalah indikasi positif bahwa masyarakat desa mulai menyadari pentingnya menjaga kualitas kesehatan dan gizi keluarga,” ungkapnya. Junaidi juga menyampaikan bahwa kehadiran kepala desa dan istri mereka merupakan langkah penting untuk memperkuat dukungan di tingkat pemerintahan desa.
Pemanfaatan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD)
Dalam kesempatan ini, Achmad Junaidi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) secara tepat untuk mendukung program Kampung KB. Menurutnya, dengan pemahaman yang lebih mendalam melalui Bimtek ini, penggunaan dana desa diharapkan lebih tepat sasaran dan langsung berdampak pada masyarakat.
“Dengan adanya pemahaman yang lebih baik, Dana Desa dan ADD bisa digunakan untuk mendukung program-program Kampung KB yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, terutama dalam upaya mengurangi angka stunting,” jelas Junaidi. Ia berharap agar desa-desa dapat memprioritaskan penggunaan dana untuk kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup warga, terutama dalam aspek kesehatan dan gizi.
Bimtek Berkelanjutan untuk Keberhasilan Kampung KB
Junaidi menekankan pentingnya pelaksanaan Bimtek secara berkelanjutan. Menurutnya, Bimtek semacam ini bukan hanya pelatihan satu kali, tetapi harus menjadi program berkesinambungan untuk memastikan bahwa Kampung KB di Kutim tidak hanya ada dalam nama, melainkan memiliki program yang berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Bimtek seperti ini harus terus dilakukan agar para pengelola Kampung KB memiliki kapasitas yang kuat untuk menjalankan program-program di lapangan. Kami tidak ingin Kampung KB hanya sekadar ada dalam nama, tetapi harus benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat,” tegasnya. Ia berharap agar para pengelola Kampung KB dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih profesional, terutama dalam memberikan edukasi dan layanan kesehatan yang efektif di tingkat desa.
Komitmen Kutim dalam Penurunan Stunting
Upaya penurunan angka stunting merupakan salah satu program prioritas pemerintah daerah Kutai Timur. Achmad Junaidi berharap dengan adanya Kampung KB yang berfungsi baik, angka stunting di Kutim dapat ditekan. Ia menegaskan bahwa DPPKB Kutim akan terus berupaya mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga dan kesehatan masyarakat.
“Penurunan angka stunting bukan hanya tugas DPPKB, tetapi tanggung jawab bersama. Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola Kampung KB, kita berharap angka stunting di Kutai Timur dapat terus berkurang,” tutupnya.
Melalui Bimtek ini, pemerintah Kutai Timur menegaskan komitmennya untuk meningkatkan peran Kampung KB sebagai ujung tombak dalam program pengendalian stunting dan peningkatan kualitas hidup keluarga di daerah. Diharapkan, langkah ini dapat menjadi contoh bagi wilayah-wilayah lain dalam menekan angka stunting secara efektif dan berkelanjutan.




